Skip to content

Hyundai H1 CRDi Senyaman Alphard Jepang

April 22, 2010

Raungan sirine mobil Patwal mengawali perjalanan lanjutan rombongan Hyundai H-1 CRDi Java-Bali Overland 2010 dari Solo menuju Malang. Suasana lalu lintas Kota Solo cukup padat, namun tak menghalangi konvoi Hyundai melaju dalam kecepatan lumayan kencang.

Empat wartawan yang berada dalam Hyundai H1 Diesel berwarna putih, belum beranjak dari tempat duduk semula, sebagai penumpang. Kendali kemudi masih dipercayakan kepada driver yang disiapkan PT Hyundai Mobil Indonesia. Jujur saja, untuk ukuran mobil sebesar Hyundai H1  dengan panjang 5.125 mm, lebar 1.920 dan tinggi 1.935 mm – menjadi penumpang jauh lebih enak.

Lepas dari Kota Solo, H1 pada saat pertama kali diperkenalkan tahun 2007, ini langsung digeber dengan kecepatan tinggi, menyesuaikan dengan  iring-iringan van Korea lain di depannya.  <i>INILAH.COM</i> yang pernah merasakan performa H1 bensin, menilai H1 CRDi jauh lebih galak.  Melahap tanjakan, apalagi kalau jalan lurus, tenaganya seperti tak ada habisnnya. Terlebih lagi, kalau pengemudi rajin memindahkan transmisi dari Drive (D) ke shiftronik (menu transmisi semi-otomoatis 5-speed), energi torsi H-1 CRDi bisa disesuaikan seperti  mengendarai model transmisi manual.

Dalam perjalanan sebelumnya, Semarang – Solo, <i>INILAH.COM</i> sempat  beberapa kali tertidur, apalagi  suara dalam kabin juga terbilang senyap, tak terganggu suara dari luar. Saat terjaga,  kesempatan untuk mengamati kabin H1 yang sekarang sudah dirakit di Indonesia .

Hyundai H-1 CRDi yang dijual di Indonesia disediakan dalam dua pilihan varian, yaitu Elegance dan XG yang dibedakan berdasakan jumlah fitur. Pada varian XG, terdapat berbagai fitur seperti layar monitor di depan dan satu layar gantung di bagian tengah. Pada model sebelumnya terdapat empat monitor yang masing-masing terletak di bagian headrest.

Ada juga  global positioning system (GPS), yang sangat membantu pengemudi mengetahui jalan-jalan yang akan dilalui, wood grain panel, lampu depan Xenon, dan head unit Kenwood Double Din.  Menurut teman saya, fasilitasnya cukup istimewa dan bisa disanding dengan  mobil-mobil premium.

Lewat handy talki, Febri Astuty, Public Relation Head HMI, mengingatkan all unit H1 untuk menurunkan kecepatan. “Kita akan mampir di sebuah rumah makan yang sangat terkenal dengan satenya, namanya sate Pak Tukri,” ujar Titie yang mendapat gelar baru sebagai miss  ‘slow down pleaae’ gara-garanya dia suka cuap-cuap mengingatkan para wartawan, slow down please, slow down please.

Menu sate ayam Pak Tukri lumayan enak, tapi karena disajikan sudah dingin, ia menurut saya biasa – biasa saja. Tapi, katanya, sate Pak Tukri ini paling terkenal di Ponorogo. Buktinya, Presiden SBY pun pernah makan di restoran yang sederhana itu.

Usai makan sate, perjalanan dari Ponorogo akan dilanjutkan ke Malang.  Rupanya, satu diantara kami akan menggantikan posisi driver HMI, Pakde panggilan akrabnya, langsung duduk di belakang stir. H1 CRDi pun mulai melaju, makin lama makin kencang.   Karakter H1 yang bongsor akan terasa nyaman kalau dikemudikan tanpa sentakan. Nah!, driver yang satu ini sering menggunakan sentakan terutama saat menghindar jalan berlubang, apalagi saat melakukan overtaking, menyalip mobil di depan.  Akibatnya penumpang di belakang sering terkena guncangan terutama saat melewati jalanan berkelok.

Belum lagi suara berisik yang berasal dari suspensi yang cukup keras.  H1 CRDi menggunakan suspensi MacPherson Strut di bagian depan dan Rigid Axle 5-link di belakang. Duet suspensi ini memang terasa agak keras jika bertemu dengan jalanan berlobang tapi melaju mulus di jalanan rata. Bisa dimaklumi karena tugasnya menopang bobot H-1 yang bongsor itu serta meminimkan roll-over bodi.

Ahh! ternyata Pakde tidak bertahan lama duduk di balik kemudi, Posisinya diambil kembali driver HMI. “Ternyata kebih enak duduk jadi penumpang mas,” ujar wartawan dari oto.co.id ini.

Menurut Pakde, kalau H1 dikemudikan dengan kecepatan ideal, 80 – 100 km per jam mungkin akan jauh lebih nyaman, sementara rata-rata kecepatan yang ditempuh iring-irngan H1 lebih dari 100 km, bahkan terkadang bisa mendekati 160 km per jam. “Nggak beda jauh dengan Alphard Jepang,” tambahnya.

Suara ‘miss slow down please’ terdengar dari handy talki, ia mengingatkan sebentar lagi all unit Hyundai H1 CRDi akan memasuki kota Malang dan akan mampir di sebuah restoran yang sudah ada sejak  zaman  Belanda. “Perjalanan dengan Hyundai, makan melulu,” komentar Pakde.

“Memang,” kata saya. Dimulai sarapan pagi, lumpia dan lontong Cap Gomeh di Kota Semarang, dua jam kemudian mampir di Roemahkoe Heritage Hotel, Solo menikmati Serabi Notokusuman, Dawet Pasar Gede, dan makanan khas Solo lainnya. Setelah itu, singgah di Ponorogo menyantap sate Pak Tukri.

Tiba di Malang, sudah lebih dari pukul 19:00, waktunya makan malam. Di Toko Oen, sajian menunya bermacam-macam, mulai dari Sup Merah, Salad, Nasi Goreng, Bistik Daging Sapi, Buah, Es Krim, Coklat panas.

Perjalanan panjang dari Semarang sampai di Malang dan istirahat di Hotel Tugu untuk menyiapkan perjalanan esok ke Pulau Dewata.  Bali lagi!

From → Auto News

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: